Sunday, 16 Jun 2024
Home
Search
Menu
Share
More
Admin on Kesehatan
17 May 2024 02:05 - 3 minutes reading

Penyakit Neurodegeneratif Parkinson yang Perlu Diwaspadai Sejak Dini

Penyakit Neurodegeneratif Parkinson yang Perlu Diwaspadai Sejak Dini yang terjadi seiring dengan proses penuaan sistem saraf di otak, terutama ketika zat dopamin mengalami penurunan hingga 30 persen.

Penurunan ini bisa mulai terjadi pada usia 50, 40, bahkan 30 tahun, memengaruhi fungsi motorik dan non-motorik seseorang.

Dr. Rocksy Fransisca V. Situmeang, Sp.N, dokter spesialis saraf di RS Siloam Lippo Village Tangerang, menjelaskan bahwa secara teori, sekitar 15 persen penyakit Parkinson dipengaruhi oleh faktor genetik.

“Namun, dengan pemahaman medis yang semakin baik mengenai pengaruh genetik dalam penyakit Parkinson, faktor genetik dapat menjadi salah satu yang bisa menurunkan risiko penyakit ini,? ujar dr. Rocksy, Jumat, dikutip dari ANTARA.

Gejala Parkinson: TRAP dan Non-Motorik

Menurut dr. Rocksy, gejala Parkinson dapat diingat dengan akronim TRAP, yang terdiri dari:

  • Tremor: Getaran yang tidak terkendali.
  • Rigidity: Kekakuan otot.
  • Akinesia: Gerakan yang melambat.
  • Postural Instability: Ketidakstabilan postur.

Selain gejala motorik, ada juga gejala non-motorik seperti gangguan tidur, gangguan penciuman, gangguan buang air besar, dan kesulitan menelan.

Perawatan dan Pola Hidup

Jika mengalami gejala Parkinson, segera hubungi dokter spesialis saraf untuk pengecekan lebih lanjut. Pemberian obat-obatan yang tepat dapat meningkatkan kualitas hidup pasien. Pasien juga membutuhkan latihan rutin untuk melatih otot agar tidak mengalami kekakuan.

“Parkinson merupakan penyakit yang tidak bisa dicegah, namun kita dapat meminimalkan risiko terkena Parkinson dengan memperbaiki pola hidup kita,? kata dr. Rocksy.

Ia menyarankan konsumsi makanan bergizi, cukup air mineral, buah dan sayur tanpa pestisida, serta menjaga lingkungan yang bersih. Mengontrol tingkat stres juga penting untuk mengurangi risiko Parkinson.

Jenis Pengobatan untuk Parkinson

Dr. Frandy Susatia, Sp.S, RVT, dokter spesialis saraf di RS Siloam Kebon Jeruk, menjelaskan bahwa ada tiga jenis pengobatan utama untuk Parkinson: obat-obatan, terapi fisik, dan metode operasi.

  • Obat-obatan: Menjadi metode utama dalam mengelola Parkinson, seperti Antikolinergik untuk mengurangi tremor, Levodopa untuk menangani gangguan gerak tubuh, dan Agonis Dopamin untuk menggantikan fungsi dopamin di otak.
  • Fisioterapi: Bagian penting dalam manajemen Parkinson, membantu meningkatkan kekuatan, keseimbangan, dan koordinasi gerakan pasien.
  • Deep Brain Stimulation (DBS): Prosedur bedah yang melibatkan penanaman elektroda tipis ke dalam area otak yang bertanggung jawab pada kontrol gerakan. DBS berfungsi untuk mengurangi gejala Parkinson yang tidak terkontrol dengan obat-obatan.

Baca Juga : Perbedaan Bulking & Cutting

Teknologi Bantu untuk Penderita Parkinson

Menurut dr. Frandy, penggunaan wearable device seperti jam tangan pintar dapat membantu penderita Parkinson dalam mengatur kebutuhan sehari-hari, seperti mengontrol waktu tidur, istirahat, jadwal konsumsi obat, dan menghitung getaran yang dialami.

DBS juga dapat dilakukan pada tahap awal penyakit untuk mencegah keparahan lebih lanjut. Prosedur ini memiliki tiga tujuan utama: mengurangi komplikasi motorik, mengurangi dosis obat yang dikonsumsi, dan mengatasi tremor.

Pendekatan Multidisiplin

Perawatan Parkinson memerlukan pendekatan multidisiplin yang melibatkan kerja sama antara dokter, terapis fisik, terapis okupasi, serta tim medis yang komprehensif. Setiap pasien memiliki kebutuhan khusus, sehingga penting untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis untuk menentukan strategi pengobatan terbaik.(*)